Topeng Sang Pelindung Palsu
Topeng Sang Pelindung Palsu
Suasana di Ruang BK sangat mencekam. Ibu Guru Agama baru saja menggerebek Dimas dan Siti yang kedapatan melanggar aturan berat.
"Karena ini pelanggaran serius, orang tua kalian harus dipanggil hari ini juga!" tegas Ibu Guru.
Dimas, siswa kelas 9 yang dikenal sangat manipulatif, pandai berbohong, dan suka melebih-lebihkan cerita, justru terlihat tenang. Ia merasa dirinya laki-laki yang tangguh, merasa dirinya panutan dan pelindung bagi Siti.
"Aku yang harus selesaikan ini. Aku yang laki-laki," batinnya sombong.
Siti, si cewek yang lugu, polos, dan bucin, hanya bisa menurut. Ia begitu percaya pada Dimas, hatinya bingung membedakan mana rasa cinta, rasa takut, dan rasa kasihan. Ia terbuai oleh kata-kata manis Dimas, tanpa sadar ia sedang dimanfaatkan. Apalagi Ayah Siti adalah sosok yang sangat tegas, membuat Siti semakin takut dan semakin bergantung pada Dimas.
Diam-diam Dimas menyelinap keluar. Ia lari ke rumah makan di depan sekolah, menemui seorang wanita yang sedang makan di sana, memberinya uang, dan membawanya kembali.
"Bu, tolong pura-pura jadi adik angkatnya Ibu Siti. Bicara yang wajar ya, nanti saya bayar," bisik Dimas cerdik.
Wanita itu masuk dan berpura-pura menjadi ibunya Siti. Namun, saat sedang bicara dengan guru, ia sempat mendekati Siti dan berbisik:
"Nanti jangan lupa ya..."
Sayangnya, bisikan itu terdengar jelas oleh Guru BK.
"Ibu ngomong apa? Kenapa berbisik-bisik?" tanya Guru BK curiga.
Wajah wanita itu langsung pucat. Apalagi saat melihat Ibu Guru Agama mengambil HP dan mulai menekan nomor untuk menelepon orang tua asli Siti guna konfirmasi, wanita itu semakin panik.
"Eh... Ibu ingat! ada keperluan mendadak! Maaf Bu, saya pamit pulang dulu sekarang mau jemput anak saya!" serunya sambil lari terbirit-birit keluar ruangan sebelum sempat ditahan.
Tidak lama berselang, Ibu dan Ayah kandung Siti datang. Mereka adalah sosok orang tua yang tegas dan berwibawa.
"Maaf Pak, Bu, kami baru sampai. Ada apa anak kami dipanggil?" tanya mereka.
Seketika ruangan hening.
"Lho? Bukannya Ibu tadi sudah datang dan sudah pulang?" tanya Wali Kelas bingung.
"Tidak Pak, kami baru sampai sekarang," jawab Ibu asli Siti kaget.
BRUK! Rahasia terbongkar di hadapan guru. Tadi datang orang palsu!
Setelah orang tua Siti menandatangani surat pernyataan dan menegur Siti dengan berat, mereka pun pulang. Mereka sama sekali tidak tahu bahwa dalang di balik semua ini adalah Dimas. Mereka tidak tahu soal uang bayaran, dan tidak tahu wanita itu dari rumah makan.
Pengakuan yang Memilukan
Setelah semua orang pergi, tinggallah Dimas bersama Wali Kelas dan Guru BK. Dengan tertunduk malu dan air mata, Dimas akhirnya curhat dan mengaku semuanya.
"Pak, Bu... maafkan saya. Saya yang salah. Saya yang cari wanita itu di rumah makan depan, saya yang bayar dia datang."
Guru BK menghela nafas panjang. "Kenapa kamu berani melakukan hal seberat ini Dimas? Kamu masih kelas 9!"
Dimas mengangkat wajahnya, dengan nada penyesalan yang dalam ia berkata:
"Saya kira berhasil Pak... Saya kira dengan cara meminjam orang di depan untuk menjadi ibu angkat pengganti ibu kandung Siti, masalah ini bisa selesai dan saya bisa selamatkan dia dari marah orang tuanya."
Wali Kelas hanya menggeleng. Ia kecewa melihat betapa licik dan manipulatifnya anak didiknya. Dimas merasa dirinya pahlawan, padahal ia hanya menipu dan menjerumuskan.
Kini Dimas harus berdamai dengan kenyataan pahit. Hukuman berat menanti, dan topeng "pria hebat" yang selama ini ia pakai untuk menipu Siti pun akhirnya retak di hadapan guru-gurunya.
Tamat.
Komentar