Pagi yang cerah dengan pesona mentari yang tampak begitu indah. Awan Awan tampak menari mengikuti langkah kaki Melati menuju Sekolah. Sosok gadis mungil yang kerap di sapa Sang Pemilik sepatu robek. Sapaan itu tak membuat dia berhenti berjalan menuju sekolahnya. Dia berusia 8tahun tetapi memiliki tekad yang kuat untuk berjuang dalam cita-citanya. Sepatu usang tak menyurutkan niatnya untuk belajar menggapai angan-angannya. Mewujudkan segala hal yang ingin dia gapai.
Pagar biru terbuka lebar, tanda Melati belum datang terlambat. Dia menuju kelas dengan girang gembira. Menyapa teman satu kelasnya.
Kursi berwarna cokelat di pojok jendela adalah saksi bisu Melati belajar di kelas dengan antusias. Dia letakkan tas merah mudanya di meja belajar. Membuka buku dan duduk menatap jendela adalah kegemarannya sebelum guru masuk ke dalam kelas.
Sosok wanita berjilbab datang dan anak-anak bersorak gembira. Dia adalah guru Melati. Guru kelas yang sangat dicintai mulai menghiasi semangat dalam ruangan. Guru Melati mengucapkan salam dan semua siswa mengikuti tak lupa membaca doa sebelum memulai pembelajaran.
Ibu guru menanyakan kabar siswa dan membuka pembelajaran dengan permainan.
Melati dan teman sebangkunya dijadikan teman sekelompok. Sebut saja namanya Anggi. Gadis kaya di kelas dan sombong. Anggi menolak masuk dalam kelompok Melati. Melati yang mendengar hal itu pun sedih dan tak menyangka karena dia miskin, Anggi tak mau menjadi teman kelompok nya.
Guru yang mendengar kegaduhan Anggi memberi arahan dan nasehat. Manusia di ciptakan setara. Tak membedakan kaya dan miskin. Karna di mata Tuhan manusia itu sama. Anggi yang mendengar hal itu tertegun malu pada dirinya sendiri. Dia menyadari betapa sedihnya hati Melati melihat perlakuannya. Anggi akhirnya meminta maaf dan mau menjadi teman kelompok Melati. Gadis kecil itu bahagia mendengarnya.
Tak terasa jam pulang telah tiba. Anak-anak pulang menuju rumahnya. Anggi berjalan kaki menuju rumahnya. Sekeliling perjalanan tampak pohon pohon rindang bernyanyi mengikuti hentakan sepatu gadis itu. Anggi melihat dari kejauhan dan melihat kondisi sepatu tak layak itu. Rasa bersyukur dia pada dirinya karena dia belum tentu bisa menjadi Melati. Mata Anggi tertuju pada sepatu di dalam mobilnya. Sepatu kesayangan yang selalu dia bawa kemana-mana. Sepatu dengan warna hitam berpita merah mungil. Dia meminta supirnya menghentikan laju mobil dan menyapa Melati.
Anggi keluar dari mobilnya dan membawa sepatu kesayangannya itu. Diberikannya sepatu itu pada Melati.
Melati sontak terdiam tak bisa berkata apapun. Matanya berkaca kaca tanda bahagia. Spontan memeluk Anggi dengan gembira.
Anggi mengucapkan betapa bersyukurnya dia bisa berbagi. Melati pun akhirnya pulang dengan hati gembira menggunakan sepatu barunya itu.
Tamat

Komentar